Pages

Friday, May 31, 2013

Gubernur Jendral Paling Kejam

 





Gubernur Jendral  J.P. COEN (1587-1629), -Adalah BAJINGAN PALING BESAR, — Kata Hati Nurani Orang Belanda


(1587-1629)Kalimat-kalimat  diatas adalah pernyataan orang Belanda sendiri. Begitulah cetusan isi hati nurani orang Belanda yang mau tau, dan merespek sejarah hubungan Indonesia-Belanda. Yang mau mengakui fakta-fakta sejarah sebagaimana apa adanya. Khususnya yang bersangkutan dengan masa berkuasanya VOC di Nusantara di bawah gubernur jendral
Semua itu (penulisnya, Eric van de Beek) bisa dibaca di s.k nasional Belanda, “ De Volkskrant”, 12 Juli 2011. Ditambahkannya pula, ‘iemand als Coen hoor je niet te eren’. Terjemahan bebas: ‘Orang seperti Coen tak patut dihormati’. Tambah lagi “De tijdomstandigheden waren geen verzachtende omstadigheden voor de massamoordenaar J.P. Coen’. Artinya, ‘Situasi ketika itu, bukanlah sesuatu yang (bisa) meringankan bagi seorang pembantai-massal seperti J.P. Coen’. Eric Van de Beek menegaskan, ‘sejarah tanah air kita, tak mengenal bajingan yang lebih besar lagi’ (maksudnya tak ada bajingan yang lebih besar selain JP Coen).
Van de Beek menulis kata-kata seperti tsb diatas terdorong oleh kejengkelannya serta kritik keras pada Dewan Perwakilan Gemeente Hoorn, Holland, yang menolak permintaan dan petisi sebagian masyarakat yang menuntut agar patung mantan gubernur jendral VOC J.P. Coen di tengah kota Hoorn itu, disingkirkan dari situ. Dianggap mencemarkan nama (baik) bangsa Belanda. Patung tsb didirikan oleh Gemeente Hoorn sebagai kenangan ulangtahun ke-300 J.P. Coen.
Mengapa Coen dinyatakan telah mencemarkan nama baik bangsa Belanda? Tulis Eric van de Beek: Dia (Coen) mendirikan kota Batavia dengan terlebih dahulu membakar habis kota Jayakarta. Ia (Coen) melakukan pembantaian masal di kepulauan Banda. Hampitr keseluruhan 15.000 penduduk kepulauan Banda habis dibunuh. Coen sendiri mengakuinya, tulisnya: ‘De inboorlingen sijn meest allen dood door den oorloch, aarmoede ende gebreck vergaen. Zeer weynich isse in de omliggende eilanden ontcomen’.
Sesungguhnya, sebelum dibangunnya patung Coen di tengah kota Hoorn, hal itu sudah menjadi masalah. Pada tahun 1887, seorang historikus Belanda bernama J. A Van der Chijs. Menulis a.l sbb: Saya ragukan apakah (dibangunnya patung JP Coen) masih akan diteruskan. (Karena) pada namanya melekat darah.’ Namun, 6 tahun kemudian (1893) patung Coen ( yang sialan itu) berdiri juga di tengah kota Hoorn. Setelah berdirinya patung Coen disitu, banyak protes diajukan masyarakat. Tidak sedikit tulisan dan petisi yang dimuat di pers yang memprotes keberadaan patung JP Coen di tengah kota Hoorn. Tetapi politisi dan penguasa kota Hoorn berkeras-kepala mempertahankannya. Hal mana menunjukkan bahwa pengaruh dan kekuatan politik konservatif masih kokoh dikalangan penguasa Belanda, termasuk di kotapraja Hoorn.
Demonstrasi-demonstrasi diadakan dan bahkan patung Coen disirami cat dsb. Menunjukkan ketidak-relaan dan kemarahan masyarakat Hoorn. Mengapa ‘bajingan pembunuh masal’ JP Coen diberikan penghormatan dengan mendirikan patungnya di tengah kota Hoorn. Eric van de Beek: ‘Seorang pembunuh masal tidak patut dihormati, dengan mendirikan patungya dipusat kota kita’.
Direktur Musium Westfries menyatakan di RTL-Nieuws: ; Dia (Coen) adalah seorang yang kejam. Tetapi dia(Coen) bukan satu-satunya orang yang begitu’. Dengan keluhan berat Eric van de Beek menutup tulisannya sbb: ‘Sebuah kota Hoorn dengan patung yang diperuntukkan bagi seorang penjagal-manusia seperti JP Coen: Ini suatu bahan (pemikiran)bagi para akhli ilmu jiwa’
* * *
Ketika bicara di pertemuan di LIPI, Jakarta, 21 Juni y.l., menyinggung masalah hubungan Indonesia-Belanda, yang dikemukakan oleh Asvi Warman Adam, aku nyatakan bahwa Jan Pieterszoon Coen (1587-1629), gubernur jendral VOC yang menguasai negeri kita dulu, adalah p e r a m p o k, yang dengan kapal dan tentaranya datang ke Indonesia untuk merampok kekayaan rempah-rempah kita. Selanjutya JP Coen menjadi penguasa Nusantara, dengan bersandar pada armada dan tentara VOC-nya. Tidak kebetulan tentara KNIL di periode kolonial oleh masyarakat kita disebut tentara KUMPENI, maksudnya compagnie, VOC.
Kukemukakan, bahwa catatan mengenai kekejaman JP Coen di Indonesia dulu, jelas sekali dikemukakan dalam buku sejarawan Herman Burgers (2010), “De Garoeda en De Ooievaar”.
Memang, hubungan Indonesia-Belanda benar-benar sebentar “mesra” sebentar “kecut”. Suatu ‘hate and love relation’. Sebab utama dari keadaan seperti itu semata-mata disebabkan oleh ‘ulahnya’ fihak penguasa di Den Haag sendiri. Bila tokh dikatakan ada masa ‘love relation’ antara Indonesia dan Belanda, maka itu kemungkinan besar, terjadi pada periode rezim Orde Baru.
Di saat itu rezim Orba mengembalikan semua modal, perusahaan dan ‘milik’ Belanda lainnya, seperti perkebunan-perkebunan, yang sebelumnya dinasionalisasi oleh pemerintahan Presiden Sukarno.
* * *
Tidak usahlah kita singgung lagi sementara ini, mengenai periode pra kemerdekaan Indonesia, pada zaman kolonialisme Belanda. Kita batasi saja sejak berakhirnya Perang Pasifik, dengan kemenangan Sekutu (A,B,C,D – yaitu America, Britain, China dan Dutch) atas Kerajaan Jepang. Belanda menganggap Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, — berdirinya negara Republik Indonesia, pada tanggal 17 Agustus 1945, sebagai suatu ‘pelanggaran’ terhadap ‘kedaulatan’ Kerajaan Belanda, yang meliputi Hindia Belanda (Indonesia).
Republik Indonesia, oleh Belanda dianggap sesuatu yang ilegal, di luar hukum. Karena melanggar Konstitusi Kerajaan Belanda. Presiden RI, Sukarno, menurut Belanda, adalah kolaborator Jepang. Maka RI adalah ciptaan dan boneka Jepang. Lalu Den Haag mengirim Van Mook (dari Australia) yang diangkat jadi Letnan Gubernuir Jendral Hindia Belanda, dengan tentara NICA-nya. Dimulailah ‘konflik’ pertama pasca Perang Pasifik, di Indonesia. Yaitu antara Republik Indonesia versus Kerajaan Belanda yang berkeras hendak mempertahankan statusquo.
Selama periode selanjutnya tak pernah ada hubungan ‘bersahabat’ yang ‘hangat’ antara Indonesia dan Belanda. Ada saja soalnya, Misalnya keterlibatan Belanda dengan kudeta Kapten Westerling yang pakai nama ‘Ratu Adil’. Aksi-aksi subversi dan kemudian yang terpanjang masa ‘kecut’ dalam hubungan Indonesia –Belanda, disebabkan oleh politik Belanda yang bersikeras hendak terus menguasai Irian Barat.
* * *
Setelah Reformasi (1998), — masih tetap ada ganjelan itu. Antara lain yang terpenting ialah, mengenai masalah HARI MERDEKANYA INDONESIA. Belanda bertahan pada sikapnya, bahwa Indonesia menjadi negeri merdeka,
s e t e l a h
Ada serentetan masalah lainnya, antara lain bermukimnya ‘pemerintah RMS (Republik Maluku Selatan), di Belanda, padahal Belanda hanya mengakui dan punya hubungan diplomatik dengan negara Republik Indonesia. Sehingga kasus ini sempat menjadi kendala kunjungan Presiden Republik Indnesia, S.B Yudhoyono, ke negeri Belanda.
Menelusuri perkembangan hubungan Indonesia-Belanda, bisa disaksikan bahwa di Belanda (terutama di kalangan yang berkuasa) masih berkuasa pandangan kolot tentang peranan kolonialisme Belanda di Indonesia, tentang peranan VOC dan tentang harijadi Republik Indonesia, 17 A|gustus 1945.
Bersamaan dengan itu tumbuh terus pandangan yang obyektif dan realis di kalangan cendekiawan dan pakar sejarah Belanda, seperti antara lain tercermin dalam tulisan Eric van de Beek dan buku sejarah hubungan Indonesia-Belanda yang ditulis oleh sejarawan Herman Burgers.

       Jan Pieterszoon Coen (lahir di Hoorn, Belanda, 8 Januari 1587 – meninggal di Batavia, 21 September 1629 pada umur 42 tahun) adalah Gubernur-Jenderal Hindia-Belanda yang keempat dan keenam. Pada masa jabatan pertama ia memerintah antara tahun 1619 – 1623, masa jabatan yang kedua berlangsung antara tahun 1627 – 1629.

       JP Coen lahir di Hoorn pada tahun 1586 atau 1587. Tanggal kelahirannya kurang jelas, yang jelas ialah bahwa ia dibaptis pada tanggal 8 Januari 1587 sebagai putra Pieter Janszoon. Pada usia ke 13 ia dikirim ayahnya ke Roma. Disana ia magang pada seorang pedagang Flandria, Belgia bernama Joost de Visscher. Di Roma ia tinggal selama 6 tahun. Selain belajar dagang, ia juga belajar berbagai macam bahasa.
  
    Pada tahun 1607 ia kembali ke Hoorn lalu pada tanggal 22 Desember pada tahun yang sama ia berangkat ke Hindia. Pada kesempatan ini ia diberi nama Coen. Ia kembali lagi pada tahun 1610. Pada perjalanan pertamanya ke Hindia tidak banyak yang diketahui selain bahwa atasannya, Pieter Willemszoon Verhoeff konon dibunuh orang Banda saat negosiasi pembelian rempah-rempah. Hal ini bisa jadi memicu kekejian Coen dalam menghadapi orang Banda pada masa depan.
       Lalu di Banten, pada usia 31 tahun, pada tanggal 18 April 1618, ia diangkat menjadi Gubernur-Jenderal. Akan tetapi baru pada 21 Mei 1619 ia resmi memangku jabatan tersebut dari Gubernur Jenderal sebelumnya, Laurens Reael. Setelah menjadi Gubernur-Jenderal, ia tidak tahan terhadap orang Banten dan orang Inggris di sana, maka iapun memindahkan kantor Kompeni ke Jakarta, di mana ia membangun pertahanan. Pada tanggal 30 Mei 1619 dia menaklukkan Jayakarta dan namanya diubah menjadi Batavia (Batavieren).
        Sementara itu orang-orang Inggris tidak diam, mereka marah atas perlakuan orang Belanda terhadap orang Inggris di Maluku. Sebagai dendam mereka merebut sebuah kapal Belanda De Swarte Leeuw yang berisi penuh dengan muatan. Maka setelah itu pertempuran antara kedua kubu pun dimulai. J.P. Coen sebagai pemimpin Belanda, bisa memenangkan pertempuran melawan orang Inggris. Setelah menang melawan Inggris, ia merusak Jakarta dan membangun benteng Belanda di kota itu. Di atas puing-puing kota Jakarta ia membangun kota baru yang dinamakannya menjadi Batavia.
        Kemudian pada tahun 1623, ia menyerahkan kekuasaan kepada Pieter de Carpentier dan ia sendiri pulang ke Belanda. Oleh pimpinan Kompeni (VOC) ia disuruh kembali ke Hindia dan menjadi Gubernur-Jenderal kembali. Maka iapun datang pada tahun 1627. Pada masa jabatannya kedua ia terutama berperang melawan Kesultanan Banten dan Mataram. Mataram menyerang Batavia dua kali, yaitu pada tahun 1628 dan 1629. Kedua-duanya gagal, tetapi Coen tewas secara mendadak pada tanggal 21 September 1629, empat hari setelah istrinya, Eva Ment, melahirkan seorang putri yang juga meninggal.
         J.P. Coen dikenang sebagai pendiri Hindia-Belanda di Belanda. Namanya banyak dipakai sebagai nama-nama jalan dan bahkan di Amsterdam ada sebuah gedung yang dinamai dengan namanya (Coengebouw). Sebaliknya, di Indonesia ia terutama dikenal sebagai seorang pembesar Kompeni yang kejam.
        Jan Pieterszoon Coen meninggal di Batavia pada tanggal 21 September 1629. Terdapat 2 versi yang berbeda mengenai penyebab kematian Coen. Menurut versi Belanda, Coen meninggal karena kolera yang kini lebih dikenal dengan muntaber (muntah berak), sedangkan versi lainnya meyakini bahwa kematian Coen akibat serangan bala tentara Sultan Agung dari Mataram. Dari kedua versi ini kemudian diyakini bahwa Coen meninggal karena terjangkit wabah kolera yang sengaja disebarkan oleh pasukan Mataram di Sungai Ciliwung setelah peristiwa Serangan Besar di Batavia tahun 1628.
         Untuk mengenang Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen, pemerintah kolonial Belanda telah mendirikan sebuah monumen dan patung pendiri Kota Batavia itu. Gubernur Jenderal VOC (1619-1623 dan 1627-1629) ini, dibuat patungnya pada 1869, bertepatan dengan 250 tahun usia kota Batavia oleh Gubernur Jenderal Pieter Mijer (1866-1872). Patung Coen yang berdiri dengan angkuh sambil menunjuk jari telunjuknya dengan mottonya yang terkenal: Dispereet Niet ("pantang berputus asa").
         Setelah berdiri selama 74 tahun di depan Gedung Putih yang kini jadi Gedung Departemen Keuangan di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, patung dari tembaga ini pun digusur dan dihancurkan pada 7 Maret 1943 selama pendudukan Jepang. Di masa kolonial Belanda, ulang tahun Jakarta selalu diperingati pada 30 Mei, ketika di tanggal tersebut tahun 1619, Coen menghancurkan Jayakarta.
                                                                                        

No comments:

Post a Comment